Penayangan Perdana flim " Ramlie Oii Ramlie" Disambut Antusias Penggemar



Penayangan Perdana flim " Ramlie Oii Ramlie" Disambut Antusias Penggemar


Kwarta5.com Batam - Pengunjung Gala Premiere film “Ramlie Oii Ramlie” pecah saat penayangan pertamanya di Blitz Kepri Mall Minggu (30/6/2019).

Ratusan penonton Masyarakat Batam tampak antri didepan bioskop saat pembelian tiket film karya sineas muda Batam hasil kerjasama antara Zettamind Studio dan Nifikiwa itu.

Pajri Andika, Sutradara film “Ramlie Oii Ramlie” mengatakan sangat deg-degan saat penayangan film tersebut. Namun setelah melihat antusias dan mendengar gelak tawa penonton, raut wajahnya berubah menjadi bahagia.

“Filmnya sesuai dengan yang kita harapkan, beberapa komedi dan drama yang kita buat sampai kepada penonton,”kata Pajri saat mendengar penonton tertawa dibeberapa adegan film Ramlie Oii Ramlie.

Film ini dikatakan Pajri membutuhkan waktu produksi sekitar 1.5 tahun. Mulai dari naskah, casting, reading, syuting sampai proses editing.

Sementara untuk biaya produksi film itu sendiri menghabiskan biaya sekitar Rp. 150 juta.

“Kita akui film kita ini masih banyak kekurangan, namun dengan budget seperti itu kita sudah puas, bila dibandingkan dengan film nasional yang menghabiskan biaya sekitar 2 miliar rupiah,”kata dia.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Je Yatmoko, produser Ramlie Oii Ramlie. Dia tidak menyangka film panjang pertamanya ini bisa semeriah itu. Selama 2 hari dia merasa kurang nyenyak tidur karena khawatir film ini tidak diterima masyarakat.

“Alhamdulillah, film kita ini sukses menghibur masyarakat, benar-benar tidak nyangka,”kata Je Yatmoko yang biasa akrab dipanggil Moko.

Kedepannya Moko mengatakan masih akan membuat film-film lokal lainnya. Apalagi setelah melihat antusias masyarakat saat gala preimer hari itu.

“Kita pasti akan buat film lagi, kita berharap pemerintah bisa ikut andil dalam project – project selanjutnya,”harapnya.

Siti Rabaina salah satu warga yang menonton film itu mengatakan baru kali ini dia sangat puas menonton film karya lokal. Apalagi film ini disertai dengan bahasa melayu dan muatan-muatan budaya melayu lainnya.

“Sekarang ini kita sudah jarang melihat film-film yang mengangkat nilai-nilai budaya, jadi film ini sangat berani bersaing dengan film-film modern yang lain,” katanya.

(Ril)
Lebih baru Lebih lama